Jakarta –prismatimes.com- Sebuah prediksi mengejutkan dilontarkan oleh pemerhati publik, Ardie, mengenai potensi terjadinya kerusuhan besar pada Februari 2026. Prediksi ini didasarkan pada kekhawatiran Ardie terhadap kondisi pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang akan memasuki tahun kedua masa baktinya.
Menurut Ardie, tingkat ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran diprediksi masih tinggi. Ia berpendapat bahwa jika Presiden Prabowo gagal menunjukkan perubahan yang mendasar dan mampu menyejahterakan rakyat, hal tersebut berpotensi memicu gejolak sosial.
"Jika gagal, maka hitungan saya Februari akan terjadi lagi social unrest," ujar Ardie dalam pernyataannya. Ia menambahkan, "Dan itu artinya akan ada crossfire antara frustrasi di kalangan elite dan piring kosong masyarakat sipil, atau piring kosong emak-emak terutama. Jadi kesulitan ekonomi akan mendikte perubahan politik."
Ardie menekankan bahwa tenggat waktu menuju potensi kerusuhan ini, menurut prediksinya, tidaklah lama. Jika tidak ada perubahan signifikan yang terlihat, maka kerusuhan pada Februari 2026 sangat mungkin terjadi.
Untuk mencegah skenario terburuk ini, Ardie mengusulkan agar Presiden Prabowo mengambil langkah tegas melalui apa yang ia sebut sebagai "radical break". Istilah ini merujuk pada perubahan besar yang bersifat fundamental.
Secara spesifik, Ardie mengartikan "radical break" sebagai sebuah langkah di mana Presiden Prabowo melakukan perombakan total, termasuk mengganti seluruh menteri yang masih terafiliasi dengan rezim Joko Widodo.
Dengan demikian, Ardie mendorong agar pemerintahan Prabowo-Gibran segera mengambil tindakan drastis untuk menunjukkan komitmen pada perubahan demi kesejahteraan rakyat, guna meredam potensi ketidakpuasan yang bisa berujung pada kerusuhan.
redaksi
