Sumbar-prismatimes.com- Di tengah hiruk pikuk modernisasi, kisah pilu masih tersisa. Seorang petani buruh tani di Sumbar yang memilih merahasiakan identitasnya, membuka lembaran pahit kehidupan yang memilukan. Kisah tentang perjuangan hidup sehari-hari, antara perut keroncongan dan beban tunggakan BPJS yang menggunung, menggugah nurani.
"Kami ini petani buruh tani, tak punya lahan sendiri," lirihnya, mata berkaca-kaca. "Untuk makan saja, sering kali kami kelaparan." Ia menceritakan betapa kerasnya mereka membanting tulang, namun hasil keringat tak sebanding dengan kebutuhan. Bahkan, di saat krisis, talas dari parit dan kebun menjadi penyelamat, pengganti beras yang tak terbeli.
Kondisi ekonomi yang sulit ini menjadi tembok kokoh bagi impian memiliki akses kesehatan yang layak. "BPJS? Kami sering tak mampu membayar. Sekarang, kami harus berjuang keras lagi untuk mengaktifkannya," keluhnya, suara bergetar. Baginya, BPJS bukan hanya sekadar kartu, melainkan jembatan menuju harapan, benteng pertahanan bagi kesehatan keluarga.
Tunggakan iuran BPJS yang mencapai jutaan rupiah menjadi beban tak tertahankan. Sementara itu, untuk mengisi perut, mereka hanya mampu membeli beras satu kiloan setiap harinya.
"Kami memohon, kepada siapapun yang memiliki hati, ulurkan tanganmu," pintanya dengan penuh harap. "Kami mohon bantuan untuk bisa kembali mengaktifkan BPJS. Ini sangat penting bagi kami." Ia tak lupa menyampaikan permohonan maaf atas keluhannya, berharap rintihannya tak dianggap sebagai kesalahan.
Kisah petani buruh tani ini menjadi cermin bagi kita semua. Ia tak hanya menuntut bantuan, namun juga mengingatkan kita akan pentingnya kepedulian. Ini adalah panggilan untuk pemerintah dan masyarakat, untuk bersama-sama mencari solusi. Bisakah kita membiarkan mereka terus berjuang sendirian? Mungkinkah ada program khusus untuk membantu petani miskin seperti mereka?
Kasus ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali komitmen kita terhadap keadilan sosial dan akses kesehatan yang merata. Bisakah BPJS benar-benar menjadi jaring pengaman sosial bagi mereka yang paling membutuhkan? Pertanyaan ini menggema di Sumbar menunggu jawaban dari mereka yang berwenang. Kisah ini bukan hanya tentang satu keluarga, tetapi tentang ribuan jiwa yang berjuang di balik bayang-bayang kemiskinan, berharap ada secercah harapan di tengah kegelapan.
Ardie
redaksi
