BATAM –Prismatimes.com- Kontroversi baru meletus terkait pengelolaan sumber daya air di Kota Batam. Seorang tokoh masyarakat, Hendrik, mengecam keras kebijakan yang mengalihkan fungsi lahan di sekitar Waduk Dam Tembesi untuk kepentingan investasi pariwisata. Menurutnya, langkah ini sangat keliru dan berpotensi memperparah krisis air yang selama ini menghantui warga Batam.
Dapat Izin 2014, Lahan 17 Hektare Diberikan ke Investor
Menurut Hendrik, berdasarkan data yang diterimanya, lahan seluas 17.676,53 meter persegi (sekitar 17 hektare) di kawasan vital tersebut telah diserahkan kepada PT Kerabat Budi Mulia.
Lahan ini diketahui sudah memiliki Izin Pematangan Lahan (IPL) dari BP Batam berdasarkan Penetapan Lokasi Nomor 21404.214020043.B1 tertanggal 18 Agustus 2014, yang diperuntukkan bagi pengembangan sektor pariwisata.
"Ini agak rancu menurut saya. Masak lokasi waduk yang diperuntukkan untuk menampung air demi hajat hidup orang banyak, justru diberikan ke investor untuk dijadikan tempat wisata? Itu namanya NGACO!" tegas Hendrik dengan nada keras, Rabu (16/04/2026).
Sarat Kepentingan & Kurang Transparan
Hendrik menegaskan, alasan utama ia menuntut peninjauan ulang adalah karena kebijakan lama ini dinilai sarat dengan kepentingan tertentu dan minim keterbukaan informasi kepada publik.
"Kebijakan-kebijakan lama terkait pemberian lahan (PL) yang dialokasikan tepat di area dam-dam di Kota Batam ini wajib ditinjau ulang. Tidak bisa dibiarkan begitu saja," serunya.
Rencana Pipa ke Lingga Bukan Solusi, Jaga Dam Adalah Kunci!
Di tengah ancaman krisis air yang terus membayangi Batam saat ini dan di masa depan, Hendrik menyoroti wacana pemerintah yang berencana membangun pipanisasi hingga ke Kabupaten Lingga. Menurutnya, itu bukan solusi yang tepat.
"Mencari sumber air di daerah lain itu bukan solusi. Solusinya bagaimana kita bisa menjaga debit air di dam-dam yang sudah ada ini tidak kering dan tetap terjaga kualitasnya," ujarnya.
Ia menekankan bahwa yang paling krusial saat ini adalah bagaimana mempertahankan baku mutu air di seluruh waduk di Batam agar tetap aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan jutaan warga.
Bukan Serang Investor, Tapi Demi Masa Depan Air Batam
Hendrik menegaskan, sikap kritisnya ini bukan bermaksud menyerang perusahaan yang sudah mendapatkan izin dari BP Batam. Namun, murni didasari oleh kekhawatiran mendalam akan kelangsungan pasokan air bersih bagi masyarakat Batam di masa depan.
*"Kami tidak bermaksud menyorot perusahaan mana pun. Tapi ini soal nyawa dan hajat hidup orang banyak. Jangan sampai demi keuntungan sesaat, warga Batam nanti yang menderita kekeringan," pungkasnya.
Kini, masyarakat menunggu langkah pemerintah dan BP Batam untuk menanggapi kritik keras ini. Apakah izin tersebut akan ditinjau ulang demi menyelamatkan sumber air Batam? Kita tunggu kelanjutannya! 💧🚫🏗️
ardie
