Batam,prismatimes.com- 13 Mei 2026 – Nelson latu, seorang dokter hewan dan warga asal Papua yang telah lama menetap di Batam, angkat bicara keras terkait buruknya pengelolaan Pelabuhan Internasional Batam Center.
Ia menilai kondisi pelabuhan yang seharusnya menjadi gerbang kebanggaan kota ini justru dikelola secara sembarangan, berantakan, dan penuh kekeliruan yang dipaksakan—bahkan berpotensi merusak citra pemerintah kota maupun BP Batam di mata publik maupun dunia internasional.
Sebagai warga yang sangat bangga dengan kemajuan Batam, Nelson mengaku sangat kecewa melihat kenyataan di lapangan. Menurutnya, pelabuhan yang dikelola saat ini tampak seolah dijalankan oleh pihak yang sama sekali tidak memahami tata kelola pelabuhan yang baik dan profesional. Padahal, ini adalah gerbang utama perhubungan yang menjadi wajah Batam di hadapan wisatawan dan masyarakat lintas negara.
"Saya lihat sendiri, operasional di sana penuh kekeliruan yang dipaksakan. Ini sangat memalukan. Banyak masyarakat yang dirugikan, fasilitas berantakan, dan pelayanan jauh dari standar pelabuhan internasional.
Kalau izin operasional saja belum lengkap, seharusnya jangan dipaksakan berjalan. Ini jelas kelalaian besar yang menjadi konsumsi publik dan merugikan banyak pihak," tegas Nelson Hallatu dengan nada tegas.
Ia menyoroti bahwa kerja sama pengelolaan ini sudah memasuki tahun kedua, namun perbaikan dan kualitas pelayanan tak kunjung membaik. Hal ini memicu kecurigaan mendalam dari Nelson: bagaimana aset strategis milik BP Batam bisa dialihkan atau dialokasikan kepada pihak pengelola tersebut?
"Saya menduga ada kejanggalan besar di balik proses pengalokasian aset ini. Jangan-jangan ada praktik kejahatan terselubung yang terlihat jelas di permukaan, tapi seolah dibiarkan. Saya minta aparat penegak hukum turun tangan menelusuri, bagaimana proses pemberian hak kelola itu terjadi, siapa yang terlibat, dan apa dasar hukumnya," ungkapnya.
Nelson menegaskan, sebagai pemerhati, ia menuntut tindakan tegas. Pengelola yang terbukti tidak mampu, tidak lengkap izinnya, dan merusak fasilitas negara harus diberi sanksi berat—bahkan kontrak kerja sama dengan mereka harus dibatalkan sepenuhnya.
Menutup pernyataannya, dokter hewan ini menyampaikan sindiran tajam yang menyentuh sisi kemanusiaan dan tanggung jawab pejabat publik.
"Profesi saya dokter hewan, saya biasa mengobati hewan agar sehat dan berguna. Tapi melihat kelakuan dan cara kerja pihak pengelola serta mereka yang bertanggung jawab atas aset ini, rasanya saya ingin 'mengobati' manusia-manusia yang punya pengaruh ini agar punya rasa tanggung jawab, rasa malu, dan bekerja benar, bukan seperti hewan yang tidak paham aturan dan kewajiban," ujar Nelson penuh emosi.
Pernyataan keras ini langsung menjadi sorotan publik. Warga berharap BP Batam dan pemerintah kota segera merespons, melakukan audit menyeluruh, dan mengambil langkah pembenahan total agar Pelabuhan Batam Center kembali menjadi kebanggaan masyarakat, bukan aib yang terus dikeluhkan.
tim
